Tampilkan postingan dengan label Serial Minum Teh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Minum Teh. Tampilkan semua postingan

Terima Kasih White Board-ku

I Ketut Suweca
 
Kadangkala kita tidak mencermati sesuatu yang kita lewati setiap hari. Dalam perjalanan menuju ke kantor, misalnya, pernahkah kita memperhatikan salah satu atau beberapa titik yang kita lewati itu? Ketika berada di pasar hampir setiap pagi, pernahkah kita memperhatikan secara detail, misalnya, sebuah tulisan kecil yang berisi peluang bisnis yang ditempel di dinding sebuah kios? Acapkali kita melewati atau melintasinya saja. Kita melihat tetapi sesungguhnya tidak melihat. Banyak hal yang luput dari perhatian kita. Mungkin kita sudah melihat ‘hutan’-nya tapi tidak memperhatikan ‘pohon-pohon’-nya. Anehnya, kadang-kadang kita pikir kita sudah tahu dan hafal semuanya karena sering melewati suatu jalur, tetapi ketika ditanya salah satu titik di antaranya, kita tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan cukup baik. Ketidakcermatan itu terjadi karena kita memang tidak fokus terhadap suatu objek dan tidak merasa berkepentingan terhadapnya. Benarkah?
Awal Januari 2010 saya membeli papan tulis putih (white board) berukuran 100 x 80 cm dari sebuah toko. Niat membeli papan ini diawali dari kunjungan saya ke rumah seorang teman dekat. Di ruang tamunya yang luas, sebuah papan putih menempel di salah satu dinding. “Itu jadi tempat anak saya corat-coret, belajar nulis,” katanya ketika saya iseng bertanya siapa yang menulis goresan-goresan lucu di atasnya. Entah mengapa, baru setelah itu saya tergerak membeli papan tulis, padahal papan putih yang digantung di tembok hampir setiap kali saya lihat, di kantor-kantor, di kampus, juga di rumah salah seorang anggota keluarga.
Mengapa tertarik dan tergerak secara tiba-tiba? Karena ada fokus yang spontanitas memunculkan kepentingan. Kepentingan apa pula itu? Begini: kompasiner mungkin sudah mengetahui bahwa saya, seperti Anda juga, suka menulis. Saya sering terbenam asyik menulis sehingga mudah lupa waktu. Nah, begitu melihat papan tulis di rumah teman itu, tiba-tiba saya tergerak membeli papan sejenis untuk tempat menampung ide-ide yang acapkali muncul.
Saya pun berangkat ke toko membelinya. Ukuran segitu harganya kurang dari Rp. 100.000,- Saya menempelnya di dinding ruang belajar. Maksud saya, agar ketika belajar, saya dapat melihatnya. Jadilah papan tulis itu nampang di dinding dekat meja belajar.
Hari demi hari, papan itu menarik perhatian saya untuk bergegas mencoretkan spidol di atasnya, menuliskan gagasan yang muncul. Pertama, saya tulis tentang agenda utama dalam kaitan dengan pekerjaan. Kedua, saya tulis tentang target menulis bulanan di koran/majalah. Ketiga, saya goreskan pula mengenai judul-judul naskah yang saya kirim ke koran dan tanggal pemuatannya (ya kalau dimuat, tentu). Keempat, saya juga menyusun target penyusunan makalah: kapan sebuah makalah/buku harus saya selesaikan. Kelima, saya pun memanfaatkan papan itu untuk menulis segala sesuatu yang membantu saya dari terjangan ‘penyakit’ pikun, seperti, kode password yang baru saja diberikan admin kompasiana, he he he.
Secara fisik, tidak ada yang istimewa dengan papan putih itu. Tetapi, ia telah membantu menolong saya untuk fokus, menyemangati saya untuk mencapai goal tertentu, mendorong saya untuk menuangkan ide-ide utama untuk dijadikan artikel, dan mengingatkan saya terhadap sesuatu yang sulit diingat. Terima kasih white board-ku!
Sudah dulu ya sahabat kompasianer. Terima kasih sudah membaca cacatan kecil ini. Salam hangat.
Read more ...

Warna-warni Minggu

I Ketut Suweca

Selama enam hari dalam seminggu Anda pergunakan untuk kerja dan kerja, hampir tidak Anda waktu untuk bercengkrama dengan keluarga. Tatkala Anda merasa membutuhkan waktu berinteraksi dengan anak dan istri, mungkin juga dengan ayah, ibu, kakek, dan nenek Anda, mengapa tidak Anda manfaatkan saja hari Minggu yang selalu datang sekali sepekan untuk berkumpul dengan mereka? Mengapa tidak Anda lupakan dulu pekerjaan rutin lalu merangkul keluarga Anda?
Bagi kami sekeluarga, hari Minggu selalu kami usahakan penuh warna. Pagi-pagi buta saya, istri dan anak-anak sudah bersiap-siap untuk jogging. Kalau tidak di taman kota, kami akan memilih di pantai. Berjalan menapaki rumput nan hijau di taman kota atau berjalan di atas pasir dengan kaki telanjang, alangkah indahnya. Suasana yang berbeda dari biasanya sungguh memberi semangat baru. Duduk-duduk sambil menjulurkan kaki di atas rerumputan. Bersama anak-anak mengambil batu-batu pipih dan melemparkan begitu rupa ke laut sehingga batu itu tampak melompat melenting-lenting di permukaan air. Menyenangkan sekali. Mengambil foto para nelayan yang tengah melaut juga mengasyikkan.
Setalah puas menghirup udara segar, kami kembali ke rumah setelah singgah sebentar ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk dimasak dan jajan. Lalu duduk santai di beranda rumah sambil nyeruput kopi hangat bertemankan jajan. Duh senangnya. Teman kopi itu bisa pisang goreng, bisa kue basah, atau apa saja yang cocok tapi menyehatkan.
Usai mengisi kekosongan isi perut, lalu kami mulai jongkok di pekarangan rumah. Bersama anak-anak membersihkan pekarangan. Mencabuti rumput liar yang mulai meninggi, memetik dedaunan dan ranting tua, dan menyapu halaman dengan sapu lidi. Tak ketinggalan membersihkan rumah, ya kacanya, ya lantainya, dan seluruh bagian yang selama hampir seminggu tidak mendapat perhatian serius.
Menyiram tubuh dengan air bersih segera setelah usai beraktivitas ringan di pagi hari, alangkah menyegarkannya. Ini saatnya membersihkan badan secara lebih teliti. Menggosok seluruh bagian tubuh dengan lebih intensif, tanpa perlu lagi dikejar-kejar waktu karena alasan segera mesti ke kantor atau ke sekolah. Mau memotong rambut? Mau mencukur jenggot atau memotong kumis? Mengapa tidak? Nikmati saja hari Minggu dengan sebaik-baiknya bersama keluarga.
Setelah sarapan pagi, mau nonton televisi sebentar lantas tidur siang? Kesempatan emas bagi sebuah keluarga yang selalu sibuk untuk menikmati hari Minggu dengan istirahat siang, sesuatu yang mungkin tidak pernah bisa dirasakan di hari lain di luar Minggu.
Kebersamaan yang suntuk dengan jalinan komunikasi yang intensif satu dengan lainnya sambil beraktivitas perlu dipelihara. Dari keluarga kebahagiaan itu berawal. Apalah maknanya sebuah ‘keberhasilan’ di luar kalau di dalam keluarga tidak ada cinta kasih yang tulus di antara anggotanya. Kewajiban kita adalah membinanya, selalu. Salam hangat.
Read more ...

Berhentilah Sejenak!

Oleh I Ketut Suweca

Mari bersama-sama kita memperhatikan dengan saksama bagaimana kita telah menjalani kehidupan keseharian selama ini. Kita teliti seperti apa kita mengisi hari-hari yang telah lewat. Adakah kita selalu bergegas, tergesa-gesa, dan cemas karena selalu merasa dikejar-kejar waktu? Adakah kita terlalu ngoyo dengan apapun yang ingin kita raih? Adakah kumpulan ‘keberhasilan’ itu benar-benar memiliki makna bagi kita? Tidakkah sebaliknya, kita telah menumpuk sesuatu yang sejatinya sia-sia belaka?
Seorang teman selalu sibuk setiap harinya, siang dan malam. Pagi ia harus mengantarkan anak, kemudian ke kantor. Di kantor ia memiliki tanggung jawab besar. Tanpa kehadirannya, pekerjaan di kantor bakal terganggu. Datang dari kantor, ia mesti cepat-cepat berganti pakaian untuk mengajar. Malam hari, ia menyelesaiakan pekerjaan kantor di rumah. Hampir setiap hari ia berangkat tidur pada tengah malam. Istri dan anak semata wayangnya pun sudah seringkali protes.
Anehnya, dia merasa senang kalau kawan-kawan menyebutnya sebagai pekerja keras alias workacholic. Kalau mendapat punjian seperti itu, ia akan lebih dan lebih keras lagi bekerja. Anehnya lagi, ia tak mau mendelegasikan tugas kepada teman atau bawahannya. Sayang, suatu hari ia jatuh sakit, harus masuk rumah sakit dan opname untuk seminggu lamanya. Selama di rumah sakit pun ia selalu memikirkan segala macam pekerjaannya yang menjadi tidak beres lantaran sakitnya itu. Ia ingin sekali segera sembuh dan bekerja. Dalam pikirannya hanya ada bekerja, bekerja, dan bekerja. Acapkali ia bertutur betapa kerasnya ia bekerja sepanjang hari. Tapi, entah untuk apa dan untuk siapa, sampai kemudian dia dipaksa untuk ‘istirahat’ oleh kelelahan yang luar biasa.
Hidup dan tuntutan hidup kadangkala menyebabkan kita mesti bekerja keras. Dengan bekerja seperti itu, kita berharap dapat memenuhi berbagai kebutuhan. Mungkin bisa membeli sandang, pangan, dan papan. Kita barangkali juga ingin menabung sebanyak-banyaknya untuk persiapan hari tua. Tampaknya tidak ada yang salah dengan semua itu.
Akan tetapi, acapkali kita lupa untuk berhenti sejenak dari segudang kesibukan seperti sahabat saya itu. Padahal, seharusnya kita memperhatikan tubuh dan hati kita. Tubuh kita pasti perlu rileks, jeda, beristirahat. Tapi, selama ini mungkin kita telah memakainya secara terus-menerus bagai robot dan lupa merawatnya. Mengapa kita tidak berhenti sejenak dan merawat badan yang telah mengantarkan kita memenuhi apa yang kita inginkan?
Pikiran kita selama ini telah disibuki dengan bisnis, pekerjaan, angka-angka penjualan, keuntungan, dan seterusnya. Sempatkah kita mengistirahatkan dan menyegarkannya kembali? Pernahkah kita ingat untuk duduk diam, mendamaikan pikiran dan hati kita, lalu menghirup udara segar sambil menghaturkan terima kasih kepada Sang Pencipta? Ingatkah kita untuk menyegarkan hati dan jiwa kita dengan doa-doa nan khusuk, mendendangkan kebesaran Tuhan?

Mari kita berhenti sejenak, kawan. Lima belas sampai tiga puluh menit saja setiap hari. Santaikan tubuh, lalu sentuhlah dia dengan sepenuh hati sambil berucap:
terima kasih kakiku;
terima kasih tanganku;
dan terima kasih jantungku;

dan seterusnya;
karena engkau senantiasa setia bersamaku dan membantuku dari hari ke hari tatkala aku tidur maupun terjaga.
Setelah itu, mari duduk atau berbaringlah dengan rileks. Tarik nafas yang dalam.
Damaikan pikiran.
Selaraskan dengan semesta.
Sentuhkan dengan vibrasi ketuhanan.
Panjatkan doa puji syukur kehadirat-Nya.
Hanya lima belas sampai tiga puluh menit per hari!
Akankah kita bilang: saya tidak punya waktu?
Read more ...

Merasakan Berkat Tuhan Sepanjang Hari

Oleh I Ketut Suweca

Saya hendak mencoba mengingat-ingat berkat atau karunia Tuhan. Dari hasil mengingat berkat Tuhan itu, saya dapat mengumpulkan beberapa kejadian yang masih kuat melekat di dalam hati dan pikiran saya.
Pertama, sudah beberapa waktu lamanya saya tidak lagi aktif berolah raga. Alasannya apa? Memalukan kalau saya sebut kesibukan, karena banyak orang sibuk selalu mampu menyisihkan waktu untuk berolah raga. Istri saya mendapatkan kabar bahwa ada senam yang bagus untuk terapi kesehatan. Belum yakin hasilnya, saya persilakan istri yang lebih dulu mengikuti senam itu. Berdasarkan informasi dari istri, saya kemudian menjadi tertarik. Saya pun ikut berlatih, berusaha untuk hadir latihan tiga kali seminggu dari jadwal yang empat kali dalam seminggu.
Di dalam senam ini saya menerima berkat Tuhan. Pertama, badan terasa semakin bugar. Kedua, melalui senam saya dan istri mendapatkan teman-teman baru. Teman-teman adalah asset berharga dalam kehidupan, bukan? Ketiga, saya tidak membayar apa pun untuk bisa ikut senam itu. Semuanya gratis, kecuali jika kita memang ingin menyumbang. Dalam kehidupan yang serba materialistis seperti sekarang ini, rupanya masih ada sekelompok masyarakat yang dengan ikhlas bersedia berbagi kepada sesama melalui senam. Dari sini saya mendapat pelajaran betapa pentingnya berbagi kepada orang lain, dan menghindari sikap mementingkan diri sendiri.
Dan, tadi siang saya menservis sepeda motor di sebuah bengkel. Saya bertemu pemiliknya dan sempat berbincang-bincang lumayan lama sambil menunggu motor selesai diservis. Dari bapak yang adalah pemilik bengkel tadi, lagi-lagi, saya mendapatkan berkat. Bentuknya: ia bersedia berbagi wawasan spiritualnya untuk saya. Ia banyak bertutur tentang kehidupan, kebenaran universal, kasih sayang, dan pentingnya kepedulian terhadap sesama. Tidak melulu dalam ucapan, bapak ini telah membuktikan kepedualiannya dengan menjadi ayah angkat begi sejumlah siswa dan mahasiswa yang berasal dari masyarakat miskin, dan masih banyak lagi bentuk kepedualian lainnya. Konsepnya adalah memberi. Katanya, dengan memberi, kita akan menerima sesuai dengan hukum sebab-akibat (kausalitas). Saya belajar dari bapak ini.
Dan, saya ingat, kurang-lebih setahun lalu, mobil yang saya kendarai mogok di jalan. Waktu itu hari minggu, semua bengkel tutup. Saya berusaha mencari bengkel terdekat dengan berjalan kaki. Merasa mentok, saya singgah ke sebuah warung kecil untuk sekadar minum sambil memikirkan bagaimana cara mengatasi masalah yang sedang saya hadapi saat itu. Saya menuturkan problem saya kepada pemilik warung. Tanpa dinyana, pemilik warung yang baru saja saya kenal itu menyerahkan kepada saya kunci dan STNK sepeda motornya untuk saya bawa mencari bengkel sampai ketemu. “Pak, pakailah motor saya. Carilah bengkel sampai ketemu,” ujarnya. Saat itu saya merasa kekuatan Tuhan sedang bekerja melalui diri orang ini. Akhirnya saya temukan bengkel yang pemiliknya bersedia membantu walaupun sedang tutup, dan problem saya teratasi. Saya temukan berkat Tuhan di antara kesulitan yang saya alami.
Satu lagi, pernah mobil yang saya kendarai tersesat masuk gang sempit. Saya salah masuk dan tak tahu jalur jalan. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul seseorang yang tanpa saya minta membantu saya memundurkan kendaraan dengan memberi komando “kanan, kiri, terus, lurus” dan seterusnya. Akhirnya saya keluar dari geng sempit yang buntu itu. Kembali saya merasakan berkat Tuhan.
Itu baru sebagian kecil saja. Ada sangat banyak berkat/karuniaTuhan yang saya terima dalam kehidupan ini. Saya selalu bersyukur kepada-Nya. “Terima kasih ya Tuhan atas semua kelimpahan ini. Jadikan jugalah hamba sebagai alatmu untuk membantu orang lain.”
Tatkala hendak mengakhiri tulisan ini saya hampir menangis, terharu setiap mengingat kebesaran Tuhan. Betapa berlimpahnya berkat Tuhan untuk saya. Adakah para pembaca merasakan campur tangan Tuhan dalam kehidupan Anda?
Read more ...

Saat Rasa Bosan Menyergap

Oleh I Ketut Suweca

Rasa bosan itu sangat manusiawi. Tak hanya dalam kaitannya kegiatan tertentu, dalam semua kegiaatan-kegiatan lainnya pun acapkali kita disergap rasa bosan. Jadi, jangan terlalu dikhawatirkan kalau rasa bosan itu mendera Anda pada suatu ketika. Karena pekerjaan yang tengah Anda tangani itu mungkin merupakan pekerjaan yang juga melelahkan dan membutuhkan konsentrasi yang intens, sekali waktu rasa bosan bisa saja menyerang Anda.
Yang terpenting adalah bagaimana mengatasi rasa bosan itu? Berikut beberapa tips yang barangkali berguna bagi Anda mengusir rasa bosan tersebut.
Pertama, hentikan pekerjaan Anda untuk sementara waktu. Beristirahatlah. Mungkin Anda memilih merebahkan diri sejenak di sofa atau di tempat tidur atau ngobrol dengan anggota keluarga/teman. Dengan beristirahat yang cukup, biasanya semangat Anda dapat pulih dan siap bekerja kembali.
Kedua, Anda dapat menyegarkan diri dengan ‘mencuci mata’ melihat pemandangan di sekitar. Mungkin ke kebun, ke pantai, atau cukup di pekarangan rumah. Boleh juga kalau Anda mengambil gunting pemotong dahan untuk melakukan pekerjaan tangan dengan menggunting beberapa dahan pohon yang sudah tua dan menyapu halaman hingga bersih. Membenahi halaman bagi banyak orang memberikan penghiburan.
Ketiga, menyanyilah. Kalau di rumah Anda memiliki CD lagu-lagu yang Anda sukai, mengapa tidak memutar dan menyanyi karaoke? Ayo, bergembiralah. Menyanyi dapat membuang stress dan memperbaharui semangat. Asalkan Anda melakukannya sesantai mungkin.
Keempat, ke pasar. Ada banyak orang yang pergi ke pasar. Di pasar kita dapat melihat kerumunan orang dengan berbagai keperluan. Ini bisa jadi sebuah pemandangan yang menakjubkan. Kalau di salah satu sudutnya ada orang berjualan jajan siap santap, mengapa Anda tidak duduk santai di situ untuk ngopi? Anda dapat berbincang-bincang dengan orang lain di situ. Bertuturlah tentang apa saja dan santai sajalah. Nikmatilah. Kita memang mesti pintar-pintar menikmati kehidupan di sela-sela kesibukan yang padat.
Kelima, berolah raga ringan. Kenakan pakaian olah raga Anda. Pergilah ke lapangan terdekat. Ambil jogging atau jalan santai. Say hello-lah dengan handai taulan yang kebetulan Anda jumpai di lapangan olah raga. Sambil membuang rasa bosan, Anda pun mendapatkan kesehatan. Bagus, bukan?
Ada banyak sekali pilihan yang dapat Anda pergunakan untuk membuang rasa bosan. Pilihan ini sangat bergantung pada selera Anda. Manakah cara yang menurut Anda paling memberikan rasa santai dan lepas? Pilihlah itu sebelum mulai lagi aktivitas Anda. ***

Read more ...

Tips Membaca Dengan Hasil Maksimal

Oleh I Ketut Suweca

Anda suka membaca buku? Kalau ya, mungkin Anda menerapkan cara membaca yang biasa dilakukan para pembaca pada umumnya. Barangkali juga Anda menggunakan cara yang unik, yang spesial. Bagaimana pun cara membaca Anda, yang penting isi buku yang Anda baca sebanyak-banyaknya dapat diserap.
Pada kenyataannya, ada buku yang hanya cukup dibaca sekali dan sekilas saja, seperti novel, kumpulan cerpen, atau lainnya. Di samping itu, ada juga buku yang wajib dibaca secara suntuk, serius. Nah, tulisan ini khusus mendiskusikan tentang teknik membaca suntuk untuk buku-buku yang serius, apakah itu buku kuliah (ilmiah) atau buku lain yang isinya wajib Anda kuasai.
Akan tetapi, ini hanyalah salah satu cara yang biasa penulis lakukan. Anda pun mungkin telah mempunyai cara tersendiri. Anda bebas memilih cara yang menurut Anda terbaik. Tulisan ini muncul hanya sekadar untuk berbagi mengenai cara penulis (saya) membaca buku. Siapa tahu ada manfaatnya walau pun hanya sebagai perbandingan.
Secara sederhana, penulis membagi cara membaca ke dalam empat tahapan, yakni tahap mengenal, tahap menjelajah, tahap mendetail, dan tahap meringkas. Mari kita mulai dari tahapan pertama, yakni tahap mengenal buku. Untuk memilih sebuah buku untuk Anda beli atau akan Anda baca, pertama-tama tentu Anda perlu melihat secara sekilas buku itu. Cara yang paling praktis adalah dengan melihat judulnya dan kilasan isinya di cover depan dan belakang. Kalau buku tersebut tidak dibungkus (karena biasanya di toko dalam keadaan dibungkus plastik), Anda bisa melihat daftar isinya untuk mengetahui sedikit tentang hal-hal utama yang dibahas.
Setelah tahap pengenalan, Anda masuki tahap menjelajah. Kalau Anda sudah memutuskan untuk membaca lanjut buku tersebut, maka kini saatnya Anda membaca isinya. Mungkin Anda merasa membutuhkan membaca seluruh isi buku itu atau hanya membaca beberapa bab yang menurut Anda itu penting diketahui. Jadi, bacalah isi buku tersebut sesuai dengan kebutuhan. Pada tahapan ini Anda membacanya dengan cepat. Membaca cepat di sini hanya untuk mengetahui secara keseluruhan isi buku dimaksud.
Usai tahapan membaca menjelajah, kini saatnya membaca secara mendetail. Membaca detail? Ya, Anda mengulangi membaca buku itu mulai dari awal lagi. Kini saatnya membaca buku dengan lebih fokus, melihat detailnya, memahami isinya step by step. Sembari membaca, berikan garis bawah bagian-bagian yang penting, bila perlu isi dengan cacatan kecil di kiri atau kanan margin buku untuk membantu ingatan atas pokok soal yang dibicarakan pada bagian tersebut. Membacalah dengan mengerahkan lebih banyak indera. Di samping melihat buku itu, membacanya, menggarisbawahi, mengisinya dengan cacatan, tidak mengapa kalau Anda merasa perlu berkomat-kamit mengekspresikan isi bagian yang Anda baca. Ingatlah, semakin banyak indera yang dilibatkan dalam aktivitas membaca, daya lekatnya di pikiran pun kian baik. Apalagi isi buku itu kemudian Anda diskusikan dengan orang lain, dan/atau Anda laksanakan dalam kehidupan sehari-hari (untuk buku how to).
Tahap terakhir adalah tahap meringkas. Pada tahapan ini Anda bisa membuat catatan-catatan seperlunya dari isi buku itu. Manfaatkan buku harian atau block note. Dengan menuliskan bagian-bagian yang penting, di samping membantu memperkuat ingatan juga untuk membantu menemukan isi ringkasnya ketika suatu saat nanti Anda perlukan.
Itulah cara penulis membaca buku. Apakah Anda mempunyai kiat membaca yang lebih jitu? Berbagilah.
Read more ...

Memaknai Kehadiran Kita di Dunia

Oleh I Ketut Suweca


Ketika hari-hari berjalan secara rutin tanpa gejolak, ketika kita mendapatkan ‘kemajuan’, mungkin dalam peningkatan jabatan, kenaikan pangkat, tumpukan kekayaan, dan ‘keberhasilan-keberhasilan’ lain, pernahkah kita berpikir mengenai hakekat hidup ini? Merenung mengenai apa sesungguhnya tujuan kita lahir ke dunia? Benarkah kita lahir untuk sebuah kekuasaan, sebuah kekayaan, atau kelimpahan duniawi lainnya?
Kadang-kadang, tatkala kita sedang sibuk berjuang mengejar sesuatu yang bersifat duniawi, mungkin kita lupa mengejar yang spiritual. Maksudnya, kita lupa mempertimbangkan, apa sesungguhnya nilai segala sesuatu yang sedang kita kejar ini. Apakah yang kita kejar itu selaras dengan keimanan kita kepada Tuhan? Atau, apakah yang kita kejar itu tidak melanggar kaidah/ajaran ketuhanan? Sebagian dari kita mungkin lupa aspek moral dan etik karena silau oleh gemerlap duniawi.
Kalau direnungkan lebih jauh, apakah sebenarnya makna semua yang kita sebut dengan ‘keberhasilan’ itu? Apakah itu akan mengantarkan kita pada jalan menuju Tuhan? Tidakkah malah menjauhkan kita dengan Tuhan? Atau, kita memang tak mau tahu dengan aspek moral dari segala sesuatu yang kita raih, karena yang penting mendapatkan sebanyak-banyaknya, tak peduli apakah sejalah dengan kehendak-Nya atau tidak?
Kalau kita acuh tak acuh terhadap nilai moral dari pekerjaan kita, persoalan menjadi sulit. Perlu usaha keras untuk membangunkan kita dari kegelapan duniawi. Kalau kita sudah selalu ingat untuk mengukur semua pekerjaan kita dengan aspek moral dan berpedoman padanya, mungkin kita akan dengan mudah melangkah di garis ketuhanan.
Mari kita coba untuk self-correctie. Kalau kita mati -- semua orang pasti akan mati -- apa yang kita bawa? Apakah kita akan membawa semua pangkat, kekayaan, dan kekuasaan yang pernah kita raih itu ke dunia sana? Bukankah kita hanya dibekali selembar kain kafan? Kalau kita bersikukuh membawa semua harata benda duniawi yang berhasil kita raih di dunia, untuk apa dan mungkinkah? Adakah orang yang seperti itu?
Penulis berpendapat, sejatinya yang kita mesti lakukan di dunia ini adalah kerja: kerja sebagai bentuk bakti atau ibadah kita kepada Tuhan tanpa harus terlalu banyak berhitung hasil yang kita dapatkan dari kerja itu. Yang perlu kita lakukan di dunia ini adalah menabur kebajikan, menabur kebaikan dan kasih sayang dengan sesama. Wujudnya bermacam-macam, mungkin berbagi sedekah dengan mereka yang miskin, mungkin berbagi pengalaman dan pertimbangan dengan mereka yang tengah dilanda kesulitan, dan senantiasa siap membantu siapa pun yang benar-benar membutuhkan bantuan. Dengan begitu, barulah kiranya kehidupan kita di dunia menjadi lebih berarti. Dan, dengan ringan dan ikhlas kita bakal meninggalkan dunia karena selama di dunia sudah sempat banyak berbuat kebaikan.
Kesempatan untuk hidup sebagai manusia di dunia adalah kesempatan emas. Dan, sifatnya sangat sementara seperti kilat di udara. Lahir, hadir, kemudian tiada. Saat di dunialah kita bisa berbuat kebaikan, bukan setelah di liang kubur. Semoga bermanfaat. ***
Read more ...

Ketika Kesulitan Mendera Kita

Oleh I Ketut Suweca

Senang dan susah itu berkawan baik. Tidak ada hidup yang tanpa pernah mengalami kesulitan. Tidak ada perjalanan hidup yang, senang-senang saja, lurus-lurus saja. Tetapi, tentu ada kelokannya, ada naik-turun, ada bagian jalan yang berbatu, bahkan ada bagian yang terjal. Masih syukur, ada sedikit jalan yang datar dan lurus yang memungkinkan kita menarik nafas dengan tenang.
Begitulah kehidupan, susah-senang, pahit-manis bergandengan. Karena itu sudah menjadi elan kehidupan dan sebagian besar tidak dapat dihindari, maka kitalah yang pintar-pintar mengelola diri kita. Dengan pengelolaan diri, kita tidak terlalu diombang-ambingkan oleh kehidupan. Ini tentu persoalan yang tidak mudah, tetapi harus dijalani.
Saya menyaksikan orang yang sedang kesusahan menuduh Tuhan tidak adil. Bagi orang ini, seakan-akan hanya dialah yang paling sengsara di muka bumi ini. Baginya, tidak ada orang susah dan sulit hidupnya sesulit dan sesusah dia. Tuhan dirasakannya tidak adil, dengan mengeluh mengapa ‘hanya’ dia yang dibebani kesusahan seperti yang dialaminya.
Hidup memang tidak terdiri atas susah-susah melulu atau senang-senang saja. Keduanya silih berganti menghampiri kita. Adakah kita ingat dengan Tuhan tatkala kita sedang hidup senang dan makmur? Apakah kita baru ingat dan memanggil-manggil Tuhan hanya tatkala kita sedang dalam kesulitan? Kita sendiri yang dapat menjawabnya.
Ketika kita susah kita menghendaki Tuhan berkenan menolong kita, tapi tatkala kita hidup senang mungkin diantara kita lupa kepadaNya.
Apapun keadaan kehidupan kita, mungkin sebaiknya kita selalu bersyukur. Bersyukur atas apapun yang sudah kita terima. Hal-hal yang utama dan bahkan urgen yang telah kita nikmati, kadangkala kita lupa mensyukurinya. Seperti, ketika kita bangun pagi masih sehat, ketika anak-anak bisa bersekolah dengan baik, ketika kita dapat bekerja dengan baik dan mendapatkan sejumlah uang untuk makan. Juga tatkala kita dapat menghirup nafas dari udara segar di pagi hari. Hal-hal yang nampaknya biasa itu acap terlupakan untuk kita syukuri.
Sebaliknya, kita mungkin lebih sering mengeluhkan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, kita mengeluhkan segala sesuatu yang belum kita dapatkan, kita menggerutu karena banyak hal yang belum kita peroleh sesuai dengan keinginan.
Mungkin ada baiknya kita mengurangi frekuensi berkeluh-kesah, dan sebaliknya memperbanyak bersyukur atau berterima kasih atas segala apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Dengan banyak bersyukur, kita akan terarah ke pikiran-pikiran positif. Dan, pikiran-pikiran positif itu akan membantu kita mencapai kehidupan yang lebih baik. Kita menjadi lebih tenang dan damai menjalani hidup, memaklumi bahwa susah-senang itu berdampingan, dan dapat menjalani hidup yang lebih berkualitas. ***
Read more ...

Berawal dari Blog , Berakhir Jadi Buku

Oleh I Ketut Suweca

Ada gejala yang cukup menarik belakangan ini dalam hubungan antara blog dan buku. Sejak dulu hingga kini orang menulis buku memang dengan sengaja untuk dijadikan sebuah buku. Artinya, orang mempersiapkan dan membuat tulisan untuk diwujudkan menjadi buku. Di samping itu, ada juga buku yang merupakan ‘bunga rampai’ dari tulisan-tulisan lepas. Tulisan-tulisan lepas itu berasal dari seorang penulis, bisa pula dari beberapa penulis. Sejumlah tulisan itu dikumpulkan, dirangkai sedemikian rupa, lalu diterbitkan ke dalam bentuk buku. Sedikit-banyak tema tulisan-tulisan itu ada keterkaitannya satu dengan lainnya.

Kini, isi blog-lah yang dimanfaatkan menjadi buku. Tulisan-tulisan yang diposting dan terdokumentasi dalam sebuah blog dipinang penerbit untuk dicetak menjadi sebuah buku. Inilah yang mulai terjadi beberapa tahun terakhir. Sebuah perkembangan yang cukup menarik dan menjanjikan bagi para blogger.
Beberapa contoh konten blog yang jadi buku, diantaranya buku ‘Jalan-Jalan Bali’, yang pada awalnya merupakan isi sebuah blog yang dimiliki seorang blogger Bali. Buku itu menjadi laris manis, karena berisi informasi yang berguna bagi mereka yang hendak melakukan tour ke Pulau Dewata. Lalu, ada pula buku yang diambil dari blog yang juga laris manis bak kacang goreng. Judulnya : Kambing Jantan: Sebuah catatan Harian Pelajar Bodoh. Raditya Dika adalah penulisnya. Pada awalnya ia tak terpikir blognya bakal jadi buku. Ia hanya mengisi blognya dengan tulisan-tulisan ringan. Eh, ternyata ada penerbit yang kepincut dengan konten blognya dan menjadikannya sebuah buku dan ternyata kemudian menjadi laris.

Dan, ada lagi Andrias Harefa. Bukunya yang berjudul Happy Writing bersumber dari blog/webnya yang terkenal itu. Ada pula sedikit tulisan yang diambil dari facebook saat dia meminta pertimbangan pembaca dalam memilih judul yang paling pas bagi buku tersebut. Judul Happy Writing merupakan pilihan para pembaca facebooknya diantara tiga alternatif judul yang ditawarkannya. Ternyata, hampir seluruh pembaca memilih Happy Writing sebagai judul buku yang paling menarik. Ya, akhirnya dipakailah judul tersebut. Di samping memuat pemikiran-pemikiran Andrias seputar dunia tulis-menulis, komentar para pengunjung web-nya pun dimuat sehingga sebuah ide menjadi lengkap dan amat menarik dibaca. Agaknya buku itu bakal laris juga sebagaimana banyak buku Andrias sebelumnya yang best seller. Sekedar diketahui, penulis produktif ini telah menghasilkan 38 judul buku!

Belajar dari hal di atas, maka suatu saat Anda yang punya blog bukan tidak mungkin bakal dilirik penerbit. Tentu saja sepanjang isi blog tersebut menarik minat penerbit. Pertimbangan penerbit, antara lain, apakah informasi yang dikandung dalam blog itu berguna bagi kalangan pembaca dan apakah kalau diterbitkan bakal laku di pasaran? Oleh karena itu, sebagai blogger amatir maupun profesional, mungkin Anda lebih memilih untuk mengisi blog Anda dengan informasi dan pengetahuan yang berguna bagi pembaca/pengunjung blog Anda. Begitu dilakukan secara berlanjut dan konsisten. Siapa tahu, tulisan-tulisan Anda pun kelak dipinang penerbit. Atau, kalau tidak, toh Anda sudah berbagi dengan para pembaca. Berbagi pengetahuan dan informasi, tanpa pamrih, sama saja dengan berbuat amal, bukan?
Nah, selamat ngeblog. Bagaimana pendapat Anda, para pembaca?
economist-suweca.blogspot.com.
Read more ...

Terima Kasih Tuhan

I Ketut Suweca

Terima kasih ya Tuhan atas hari ini;
Atas hari yang telah mampu hamba jalani dengan baik;
Atas hari yang memberikan hamba sekali lagi kesempatan;
Untuk berpikir dan berkarya;
Dan menjadi lebih baik.

Terima kasih ya Tuhan;
Atas segala karuniaMu;
Atas kesehatan yang baik dan rejeki yang cukup;
Atas anak-anak dan istri yang sehat dan selamat;
Atas segala kegembiraan yang kami dapatkan dari kehidupan hari ini.

Ampunilah hamba ya Tuhan;
Atas segala dosa, kekurangan, dan kekhilafan hamba;
Atas semua hal-hal yang tak baik yang pernah hamba perbuat;
Atas semua pikiran, perkataan, dan perbuatan hamba;
Yang tak selaras dengan perintahMu;
Mohon ampunilah hambaMu ini ya Tuhan.

Ya Tuhan;
Berikanlah hamba kemampuan;
Untuk memaafkan semua orang yang pernah berbuat salah kepada hamba;
Tumbuhkanlah rasa maaf dan cinta nan tulus;
Bukalah hati hamba untuk menerima segala perbedaan;
Dan jauhkanlah hamba dari iri, dengki, dan benci;
Serta segala penyakit batin lainnya;
Karena, hamba menyadari, itu semua akan merusak jiwa.

Ya Tuhan;
Tuntunlah hamba untuk senantiasa melangkah di dalam jalanMu;
Jadikan pula hamba sebagai alatMu untuk berbagi kebaikan kepada sesama;
Berbagi kasih, berbagi ilmu, berbagi harapan;
Jadikan pula hamba sebagai alatMu untuk menyebarkan kebajikan;
Melalui semua kemampuan yang Tuhan berikan;
Tanpa mesti menjadi tinggi hati;
Bakti dan sujudku hanya padaMu Tuhan.

Itulah doa yang biasanya saya lantunkan dalam hati menjelang tidur. Andapun, saya kira punya doa yang senada. Lantunkanlah. Semoga berbuah kebaikan bagi Anda dan bagi kita semua. Semoga kita semua menjadi lebih dan lebih baik lagi dari hari ke hari. Semoga.



economist-suweca.blogspotspot.com.

Read more ...

Kalau Ingin Jadi Penulis, Menulislah!

Oleh I Ketut Suweca

Mari kita tengok seorang balita yang sedang belajar berjalan. Ia tak langsung bisa berjalan seperti orang dewasa, bukan? Dia mungkin akan mulai dari belajar merangkak. Dia mencoba menyeimbangkan kedua kakinya saat bergerak. Setelah bisa merangkak, sedikit demi sedikit ia mencoba berdiri. Setiap kali mencoba berdiri, ia jatuh. Pantatnya berkali-kali terhempas ke lantai. Tapi, ia bangun lagi setiap kali terjatuh. Usaha yang berulangkali dari hari ke hari membuatnya bisa berdiri pada akhirnya. Tak puas hanya sekedar berdiri. Kali ini tiba saatnya mulai belajar melangkah. Dia pun mencoba melangkahkan kakinya satu satu. Pelan-pelan sekali. Badannya oleng dan ia pun jatuh. Begitu terus-menerus terjadi sampai akhirnya balita tadi benar-benar mampu melangkah dengan cukup sempurna. Senyum manis dan tawa kecil melengkapi kemenangannya!
Ketika menginjak sekolah dasar, mari kita lihat lagi anak ini belajar naik sepeda gayung. Mula-mula ia belajar menuntun sepedanya di gang kecil di depan rumah. Setelah itu, dia mencoba menaiki sepeda itu dan menggayungnya, dan belum berhasil. Dia jatuh berkali-kali. Beberapa kali lutut dan sikunya lecet lantaran berbenturan dengan permukaan beton di gang tempatnya berlatih. Latihan itu dilakukannya berulang-ulang tanpa putuas asa. Dan, apa hasilnya? Akhirnya ia berteriak gembira: “Aku bisa. Pa, Ma, aku bisa naik sepeda!”
Setelah si anak beranjak remaja, mari kita lihat bagaimana ia yang belajar berenang. Ia tidak belajar berenang dari buku-buku tentang teknik berenang. Dia langsung saja terjun ke air kolam yang cukup dangkal. Lalu, ia pun mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Berkali-kali dicoba, tapi belum berhasil. Tanpa pernah bosan, ia berlatih terus-menerus. Dan, akhirnya, suatu hari kemudian, remaja kita ini bisa berenang! “Horee, saya berhasil,” teriaknya yang didengar teman-teman seusianya. Ia tersenyum, manis sekali.
Apa kaitan cerita itu dengan aktivitas menulis? Jika ingin menjadi penulis, maka kita pantas belajar dari anak tersebut. Bagaimana ia belajar berjalan ketika masih balita, lalu belajar bersepeda ketika kanak-kanak, dan belajar berenang tatkala remaja. Hikmah yang dapat kita petik: perlunya latihan dan latihan. Kalau orang ingin menjadi penulis andal, tentu diperlukan kesediaan berlatih menulis secara terus-menerus. Tak bisa lain. Membaca buku-buku teknik menulis, walaupun perlu, tapi bakal tak banyak gunanya kalau kita tak kunjung menggoreskan tinta pena di atas kertas atau kalau kita tak mau membuat jemari kita ‘menari’ di atas tuts komputer.
Menulis adalah pekerjaan melakukan, pekerjaan ‘action’. Jadi, tulis saja yang ingin ditulis. Apa itu dimaksudkan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di selembar kertas kecil, mengisi buku harian, mengisi blog, atau membuat artikel. Cita-cita menjadi penulis tak akan pernah tercapai kalau kita tak pernah menghasilkan tulisan. Mimpi menjadi penulis saja tak cukup. Yang lebih penting: berani mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Untuk ini, tiada pilihan lain selain menulis dan menulis tanpa pernah berhenti. Kalau hasilnya belum sempurna, tak mengapa. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Teruslah menulis dan menulislah terus.
Bagaimana pendapat Anda? Salam.
economist-suweca.blogspot.com
Read more ...

Tips Sukses Merebut Kursi PNS

I Ketut Suweca

Setiap kali ada penerimaan PNS baru di berbagai kantor pemerintah, orang berduyun-duyun melamar. Mereka berharap dapat diterima menjadi PNS kendati mereka tahu persis peluang untuk berhasil relatif kecil. Kecilnya tingkat keberhasilan itu disebabkan oleh jumlah pelamar yang membludak sementara kuota kursi yang diperebutkan sangat kecil/terbatas. Akhirnya, para peminat pun harus bersaing ketat untuk mendapatkan kursi.
Mengapa kursi PNS itu demikian menarik? Sebagian mengatakan bahwa menjadi PNS itu bergengsi, memiliki masa depan yang pasti. Kendati gajinya tak terlalu besar (juga tak terlalu kecil), tapi dapat diandalkan untuk menopang hidup sehari-hari. Lebih-lebih, ada ada gaji/uang pensiunan setiap bulannya yang bakal diterima kalau PNS yang bersangkutan sudah pensiun. Bekerja sebagai PNS dipandang tidak terlalu berat. Berbeda dengan di perusahaan swasta yang mengharuskan seseorang bekerja keras untuk mendapatkan keuntungan demi keajegan perusahaan.
Sebagian lain melihat bekerja sebagai PNS di pemerintahan adalah kesempatan untuk mengabdi kepada pemerintah dan masyarakat sekaligus melakukan upaya perbaikan dari dalam tubuh birokrasi demi pelayanan yang lebih baik. Apapun motivasi orang menjadi PNS, yang jelas kursi di birokrasi pemerintahan itu senantiasa jadi incaran.
Berikut ini ada diberikan empat tips untuk sedikit membantu melapangkan jalan menuju keberhasilan dalam persaingan merebut kursi PNS.
Pertama, pelajari jenis-jenis soal yang diperkirakan bakal keluar. Ada banyak buku yang dijual di pasaran untuk membantu mempersiapkan pengetahuan menyongsong pelaksanaan tes. Jenis-jenis tes biasanya meliputi Tes Kemampuan Umum (TKU), Psikotes, Tes Bakat Skolastik (TBS), Tes Potensi Akademik (TPA), dan Tes Bahasa Inggris (TOEFL). Juga, ada Tes Skala Kematangan, dan Tes Teknologi Informasi. Setiap instansi pemerintah menetapkan jenis tes yang tak selalu sama.
Kedua, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya, baik secara mental maupun fisik. Artinya, menjelang tes berlangsung orang harus yakin bahwa kondisi tubuhnya sedang fit, mentalnya tidak sedang tertekan. Makanlah secukupnya menjelas tes. Nah, menjelang tes berlangsung, jika ingin buang air, lakukan sebelum tes karena ketika tes tengah dilaksanakan pihak Panitia kemungkinan tak mengijinkan peserta keluar ruangan.
Ketiga, berdoalah sebelum tes dimulai. Tarik nafas dalam-dalam sebanyak 3 kali, berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan, dan mulailah menjawab soal-soal tes dengan tenang. Ketegangan hanya akan membuat pikiran susah berkonsentrasi.
Keempat, jangan pernah berputus asa. Kalau kali ini tidak berhasil lolos dalam tes, cobalah lagi tahun depan. Coba pula di tempat atau lembaga lain yang sedang mencari pegawai baru. Sementara itu, jangan pernah berhenti belajar. Ikuti perkembangan seputar isu-isu terkini. Hal ini perlu untuk menopang pengetahuan umum yang merupakan salah satu bagian materi tes.
(Kalau sudah mengikuti tes berkali-kali, sampai 6 atau 10 kali misalnya, hingga merasa bosan dan terkena batasan usia tapi tidak juga berhasil, maka janganlah hal ini dipandang sebagai akhir kehidupan. Juga, bukan akhir dari segalanya. Masih ada pintu peluang di luar PNS yang menunggu dibuka. Menjadi PNS bukan satu-satunya pilihan karier, bukan?)
Semoga tips ini bermanfaat. Selamat mengikuti tes, semoga berhasil.
economist-suweca.blogspot.com
Read more ...

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

Oleh I Ketut Suweca

Para ibu seringkali mengingatkan putra-putrinya untuk membiasakan mencuci tangan sebelum makan. Demikian seringnya, sampai-sampai dibuatkan nyanyian, “.... kalau kita makan Dik, cuci tanganmu dulu...”. Syair lagu itu mengingatkan kita untuk senantiasa mencuci tangan dengan menggunakan sabun. Usai ke belakang, usai berkebun, usai menceboki bayi, dan usai melakukan aktivitas yang membuat tangan kotor, hendaknya segera dicuci dengan sabun. Demikian juga, ketika hendak mengambil makanan, minuman, dan sebagainya, diperlukan mencuci tangan dengan sabun.
Akan tetapi, dalam praktek, kebiasaan ini belum tumbuh dengan baik. Kalaupun anak mencuci tangannya, masih sekedar membasahi tangan sebelum ia makan. Hal yang sama acapkali dilakukan pula oleh orang dewasa. Padahal, tidaklah cukup sekedar mencelupkan atau mengguyur bagian telapak dan punggung tangan dengan air. “Mencuci tangan tidaklah sekedar membasahi tangan dengan air, tetapi harus benar-benar mencucinya dengan sabun, sampai ke sela-sela jari tangan. Kalau hanya pakai air, bakterinya tak akan hilang,” ujar dr.Ida Ayu Oka Sulaksmi, rekan saya yang bertugas di sebuah lembaga kesehatan milik pemerintah. “Kini dengan mudah kita menemukan sabun cair yang khusus untuk mencuci tangan (handwashing),” tambahnya.
Mencuci tangan pakai sabun tentu saja banyak manfaatnya. Dintaranya untuk mencegah si empunya terkena penyakit diare, penyakit kulit, peradangan pernafasan, dan sebagainya. Penyakit-penyakit ini banyak disebabkan oleh tidak terjaganya kebersihan. Oleh karena itu, pola hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu secara terus-menerus dikumandangkan kepada seluruh masyarakat, terutama melalui sekolah-sekolah, mulai dari SD hingga SLTA.
Bagi masyarakat dunia, CTPS sebagai perwujudan pola hidup bersih dan sehat, demikian penting dan strategis. Penting, karena hal ini berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan manusia sehingga harus dilaksanakan dengan segera, tanpa ditunda-tunda. Lalu, strategis, lantaran hal ini menentukan kualitas sumberdaya manusia masa kini dan masa depan. Saking penting dan strategisnya, maka WHO menjadikan tanggal 15 Oktober sebagai Hari CTPS.
Semoga kita yang mungkin pada awalnya melihat CTPS sebagai hal yang sepele atau remeh menjadi sadar bahwa inilah kunci pertama dalam pembentukan kebiasaan berpola hidup bersih dan sehat. Mulai sekarang, mari kita ajak anak-anak, rekan-rekan, saudara-saudara kita untuk memulai pola hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan menggunakan sabun. Jangan lupa, keteladanan dalam bentuk contoh-contoh nyata dalam praktek keseharian sangat menentukan keberhasilan program ini.
Seperti kata pepatah, kesehatan memang bukanlah segalanya, tapi tanpa kesehatan, segalanya menjadi tak berarti apa-apa.
Nah, para pembaca, bagaimana pendapat Anda?
economist-suweca.blogspot.com
Read more ...

Tips Memilih Tempat Kuliah

Oleh I Ketut Suweca

Pertengahan tahun depan, siswa yang kini kelas 12 sekolah menengah atas akan menyelesaikan pendidikan menengahnya. Cukup jauh sih, tapi alangkah baiknya kalau dirancang mulai sekarang. Ada yang berpikir untuk bekerja setelah tamat sekolah. Ini dilakukan lantaran keterbatasan dana. Ada juga yang ingin melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi. Pertanyaannya adalah hendak kuliah dimana dan mengambil jurusan apa? Dua pertanyaan ini acapkali masih membuat bingung. Nah, untuk mengurangi kebingungan itu, penulis berbagi tips, siapa tahu bermanfaat bagi kalian semua.
Pertama, pilihlah kampus yang tepat. Ada dua jenis tempat kuliah yang nyaris tampak sama. Yang satu berada di bawah asuhan dan binaan Dirjen Dikti Depdiknas, baik negeri maupun yang swasta. Yang lain berada di bawah binaan Departemen Tenaga Kerja. Kalau perguruan tinggi di bawah Dikti, kebanyakan mendidik mahasiswanya untuk menyerap pengetahuan dengan sebagian besar mata kuliah berisi kajian keilmuan. Kalau yang di bawah Depnaker, sebaliknya: kuliah seperti ini penekanannya semata-mata pada ketrampilan, hampir sama dengan kursus-kursus yang kita kenal, hanya kadang-kadang diberi merk “diploma satu, diploma dua, dan seterusnya”. Yang mana kalian pilih?
Ada juga sih perguruan tinggi yang mengenakan brand ‘diploma’ di samping S1, S2, dan S3, tapi tetap di bawah Dirjen Dikti atau Kopertis wilayah setempat. Apa bedanya ya? Diploma keluaran perguruan tinggi dengan diploma keluaran ‘kursus panjang’ di bawah Depnaker itu tentu ada bedanya, kendatipun secara umum sama-sama memberikan kecakapan teknis di bidang tertentu. Kalau lulus dengan sertifikat diploma dari ‘kursus panjang’ itu, pasti kalian ditolak melamar sebagai PNS, tapi kalau diploma dari sebuah perguruan tinggi pasti diperbolehkan. Asal, ada bukaan formasinya lho.
Kedua, pilih yang terakreditasi. Sistem akreditasi ini dimaksudkan sebagai evaluasi oleh lembaga yang berwenang terhadap perguruan tinggi yang ada, baik negeri maupun swasta. Sebuah tempat kuliah yang sudah terakreditasi, akan memberikan kepastian mengenai kualitas perguruan tinggi tersebut. Jangan terlalu percaya dengan promosi berlebihan di media massa. Tapi, upayakan datang dan cek kebenarannya, pastikan apakah sudah terakreditasi atau belum perguruan tinggi tersebut. Cek di internet, di posisi mana perguruan tinggi yang kalian tuju itu dalam pemeringkatan PT di Indonesia.
Ketiga, pertimbangkan kondisi keuangan. Jangan memilih jurusan yang tak terjangkau oleh isi kantong kalian (baca: orang tua). Kalau dipaksakan, jangan-jangan macet di tengah jalan. Masa studi yang relatif panjang akan membutuhkan biaya yang cukup besar pula. Nah, untuk memperingan biaya, tanyakan apakah ada beasiswanya disitu. Ini penting sekali bagi kalian yang berkantong tipis. Beasiswa pasti akan membantu meringankan beban orang tua mahasiswa. Konsekuensinya, kalian mesti belajar keras agar dapat meraih beasiswa itu.
Keempat, sesuaikan dengan minat dan bakat. Memilih perguruan tinggi hendaknya perlu disesuaikan dengan minat dan bakat kalian. Jangan sekali-kali memilih jurusan yang tidak disenangi, walaupun disitu besar kemungkinan kalian mendapatkan beasiswa selama studi. Di samping akan berat saat mengikuti kuliahnya, juga setelah tamat, kalau kalian bekerja sesuai dengan jurusan, tetap saja akan menjadi beban psikhologis sehingga sulit berkembang. Bagaimana meniti karier dengan baik kalau pekerjaan yang ditangani tak sesuai dengan minat dan bakat? Jika kalian memasuki jurusan yang selaras dengan bakat, maka belajar menjadi menyenangkan sehingga memungkinkan mencapai prestasi terbaik, profesi atau karier pun kelak akan bisa maju lancar.
Bagaimana pendapat kalian? Selamat memilih. 

economist-suweca.blogspot.com
Read more ...

Tips Memilih Seminar

Oleh I Ketut Suweca

Tawaran seminar belakangan ini cukup marak. Media massa, terutama media cetak, seringkali mempublikasikan tentang adanya penyelenggaran seminar. Berbagai ragam topiknya, seperti manajemen, keuangan, kunci sukses, dan spiritual. Foto para pembicaranya pun diperlihatkan dalam publikasi/iklan itu sebagai salah satu daya tarik. Ongkos yang harus dikeluarkan pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Lantas, bagaimana memilih seminar yang akan diikuti? Berikut beberapa tips sederhana yang bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum memutuskan mengikuti atau tidak mengikuti suatu seminar.
Pertama, perhatikan waktu Anda. Punyakah Anda waktu luang untuk mengikuti seminar tersebut? Mungkin Anda harus mengatur kembali waktu kerja Anda sehingga tidak berbenturan dengan acara seminar yang akan Anda ikuti. Yang penting, jangan pernah mengorbankan pekerjaan atau tugas yang menjadi prioritas.
Kedua, ketahui siapa pembicaranya. Dengan bekal informasi yang mungkin sudah Anda miliki sebelumnya, dengan segera Anda dapat memastikan apakah sang pembicara dalam seminar itu benar-benar kompeten atau tidak di bidangnya. Kalau Anda sama sekali tidak punya informasi tentangnya, cobalah bertanya kepada orang lain yang kira-kira mengetahuinya atau gali informasi dari internet. Acapkali seorang pembicara yang punya nama adalah juga seorang penulis buku. Dengan mengetahui bukunya, berarti Anda sudah memiliki referensi positif tentangnya.
Ketiga, perhitungkan cost bakal Anda keluarkan. Pada umumnya pembicara yang memiliki kompetensi tinggi dan terkenal, cenderung memasang tarif tinggi. Untuk menentukan pilihan, hitung dulu kemampuan kantong Anda. Jangan pernah memaksakan diri.
Keempat, relevansinya dengan pekerjaan dan minat Anda. Apakah seminar tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda? Pertimbangkan relevansi topik atau isi yang dibicarakan dalam seminar dengan pekerjaan, minat, atau hobi Anda. Kalau relevan, pertimbangkan untuk mengikutinya. Jika tidak, say good bye saja.
Nah, pembaca yang budiman, bagaimana pendapat Anda?
economist-suweca.blogspot.com
Read more ...

Belajar Menyenangi Pekerjaan

Oleh I Ketut Suweca

Kok menyukai pekerjaan saja orang harus belajar? Bukankah pekerjaan yang kita kerjakan wajib hukumnya untuk disenangi? Demikian mungkin pendapat pembaca. Ya, saya setuju bahwa adalah wajib bagi seseorang untuk menyenangi atau menyukai pekerjaannya kalau dia ingin berhasil dalam bidangnya itu. Akan tetapi, persoalannya adalah orang tidak selalu bisa mencintai pekerjaannya. Salah satu alasannya, karena pekerjaannya itu tak cocok baginya. Ketidakcocokan itu mungkin lantara tidak sesuai dengan minat, bakat, dan kompetensi atau terlalu sulit baginya untuk dikerjakan.
Kalau hanya sulit dikerjakan atau belum bisa mengerjakannya dengan baik, maka cukup dengan meningkatkan kemampuan dengan pelatihan. Perlu lebih banyak bertanya, baca buku, atau bahkan ambil kursus. Dengan demikian, kompetensi akan bisa bertambah dan kesulitan bisa pun dapat diatasi dengan baik. Jadi, kalau berkeinginan tetap bekerja di tempat sekarang, dengan menambah kompetensi, Anda lambat-laun dapat menyenangi pekerjaan tersebut karena sudah menguasainya.
Tetapi, kalau Anda memang benar-benar tidak berminat dan merasa tidak berbakat terhadap pekerjaan tersebut, maka sebaiknya jangan dikerjakan. Ciri-ciri orang tidak berbakat dan tidak berminat diantaranya: hasil pekerjaannya terlalu sering salah/rusak, cepat bosan, dan sering mangkir. Juga, dalam menjalankan pekerjaan tersebut ia menjadi tidak efisien lantaran acapkali melakukan kesalahan dan memakan waktu lebih lama daripada seharusnya. Kalau demikian halnya, sebaiknya cari pilihan pekerjaan lain dalam perusahaan itu. Kalau tidak ada, lebih baik Anda bilang good bye saja. Cari lagi pekerjaan yang menurut Anda lebih sesuai dengan minat dan bakat Anda. Nah, dalam pencarian itu, kemungkinan Anda akan menemukan pilihan yang hebat, yakni berusaha secara mandiri alias berwirausaha.
Dalam era persaingan yang amat ketat seperti sekarang ini, mencari pekerjaan yang benar-benar cocok dengan minat, bakat dan kompetensi, tidaklah mudah. Orang banyak sekali terpaksa menerima suatu pekerjaan karena alasan kebutuhan akan uang. Ada keluarga yang harus ditanggungnya. Mereka bertahan di suatu perusahaan lantaran tidak atau belum menemukan pekerjaan lain yang cocok baginya. Daripada harus melepas yang lama, menunggu yang baru, maka mereka berpandangan akan lebih baik tidak dilepas dulu sampai ada kepastian mendapatkan pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan keinginan.
Sepanjang memiliki kompetensi yang spesifik dan dibutuhkan pasar dengan persaingan yang tak terlalu ketat, keputusan berpindah-pindah pekerjaan tak mengapa. Banyak orang yang seperti ini melakukan turn-over, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Tapi, bagi yang tak memiliki spesifikasi, mempunyai pendidikannya umum saja tanpa disertai dengan skill yang khusus, barangkali akan memilih untuk bertahan di pekerjaan lamanya. Ia akan tetap bertahan di situ, sampai ada pekerjaan lainnya yang memberikan kepastian untuk didapatkan.
Apapun pilihan Anda, baik bertahan dengan berusaha menyiasati kesulitan yang ada maupun memutuskan pindah, itulah pilihan yang terbaik bagi Anda. Yang pasti, Anda sudah seharusnya menyukai pekerjaan karena dia (pekerjaan itu) memberikan Anda penghasilan, dia merupakan pemberian Tuhan melalui tangan-tangan yang berwujud manusia, di samping memang wajib hukumnya untuk menangani pekerjaan itu dengan cara terbaik yang Anda bisa.
Kalau Anda sudah berhasil menyenangi pekerjaan Anda, maka pekerjaan itu akan membalas dengan ‘senyum’ sekaligus memberikan balasan dengan penghasilan yang lebih baik untuk Anda. Selamat belajar menyenangi pekerjaan.
Bagaimana pendapat Anda, para pembaca?
economist-suweca.blogspot.com
Read more ...

Membangun Perpustakaan Pribadi di Rumah

Oleh I Ketut Suweca

Memiliki perpustakaan pribadi di rumah adalah suatu kebanggaan sekaligus prestise. Bagi pandangan kebanyakan orang, perpustakaan di rumah mencirikan tingkat intelektualitas seseorang. Kalau orang memiliki perpustakaan di rumahnya, maka dapat diyakini bahwa si pemilik rumah adalah seorang intelektual, pencinta ilmu pengetahuan atau seorang yang doyan membaca.
Perpustakaaan pribadi di rumah memang dapat merupakan simbol intelektualitas seseorang. Anda bisa membayangkan, bagaimana mungkin seseorang disebut intelektual, kalau ia tidak punya cukup buku dan tidak suka membaca. Bagi seorang intelaktual, buku adalah sahabat karibnya. Oleh karena demikian, agar kesukaan akan buku itu terkondisi dengan baik, sudah seyogianya dibangun perpustakaan pribadi di rumah. Bukan sekedar agar disebut intelek, melainkan untuk menyiapkan ‘gudang ilmu’ dengan segala kelengkapannya, sehingga si pemilik bisa dengan mudah menyalurkan aktivitas membacanya dalam kehidupan privat di rumah sendiri.
Paling tidak ada empat sarana utama yang perlu dipersiapkan tatkala hendak membangun perpustakaan pribadi di rumah. Pertama, siapkan sebuah ruang dengan luasan tertentu yang memadai untuk maksud ini. Boleh di ruangan khusus perpustakaan, boleh di ruang tamu atau di kamar tidur. Diantara sekian pilihan itu, membuat ruangan khusus perpustakaan adalah yang terbaik. Kalau tidak ada ruang khusus, silakan memanfaatkan ruang tamu atau kamar tidur. Kedua, siapkanlah rak yang relatif besar untuk meletakkan buku-buku Anda. Rak itu bisa terbuat dari kayu atau dari rangka besi, atau bahan lainnya, terserah Anda. Yang penting rak tersebut cukup kuat untuk menyangga buku-buku Anda ketika jumlahnya kian banyak dan rak itu terisi penuh. Upayakan rak tersebut tertutup dengan kaca tembus pandang. Ini penting untuk menjaga keamanan/keutuhan buku dari kotoran dan debu. Kaca yang transparan dibutuhkan agar tatkala mencari buku, Anda dapat dengan mudah melihatnya tanpa harus membuka kaca.
Ketiga, siapkan buku-buku yang menjadi ‘kekayaan’ Anda itu. Untuk membeli buku-buku dimaksud, tentu Anda harus siap mengeluarkan dana yang lumayan banyak karena harga buku belakangan ini terbilang mahal. Tapi, pastinya buku-buku itu tak mesti dibeli sekaligus. Sisihkan saja sebagian kecil dari penghasilan Anda untuk membeli buku setiap bulannya. Usahakan setiap bulan Anda menambahkan 2-3 buku ke dalam rak buku Anda. Kalau ada uang lebih, lebih banyak buku yang Anda koleksi setiap bulannya tentu lebih baik. Keempat, siapkan sebuah meja baca dan sebuah kursi serta lampunya yang cukup terang tempat Anda nantinya akan bersantai sambil menikmati bacaan dari gudang ilmu alias perpustakaan pribadi Anda.
Membangun perpustakaan pribadi adalah sebuah langkah awal yang bagus. Tapi, semua itu belumlah cukup kalau Anda tidak meluangkan waktu untuk membaca, menggali ilmu pengetahuan dari perpustakaan yang Anda buat. Sisihkan waktu, paling tidak satu atau dua jam setiap hari untuk membaca.
Nah, selamat membangun perpustakaan dan selamat membaca. Jadilah intelektual sejati.
Bagaimana pendapat Anda, para pembaca?
Read more ...

Menulis Itu Menyenangkan

Oleh I Ketut Suweca

Benarkah menulis atau mengarang itu menyenangkan? Mungkin demikian pertanyaan Anda, para pembaca. Bagi sebagian besar orang akan berpendapat bahwa menulis itu memang menyenangkan bagi mereka yang menyukai kegiatan ini. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak memiliki hobi, minat, bakat atau apapun namanya, mungkin akan susah baginya untuk mengatakan bahwa menulis itu menyenangkan. Tapi, sabar dulu. Pendapat di atas perlu diragukan! Mengapa?
Di atas disebutkan bahwa mereka yang memiliki bakat sajalah yang bakal senang dengan pekerjaan tulis-menulis. Tapi, apakah bakat itu? Orang tak bakal tahu bakatnya sampai dia mengembangkannya dengan baik hingga mencapai keberhasilan. Bakat tak muncul tiba-tiba, ia harus melalui proses pembelajaran yang intensif.
Oleh karena itu, jangan bilang bahwa Anda tidak berbakat menulis, tapi teruslah mencoba mengasah kemampuan menulis itu sampai Anda tercengang bahwa sebenarnya Anda pun berbakat seperti orang lain yang selama ini Anda pandang berbakat menulis. Anda tentu setuju bahwa ntuk mencapai keberhasilan dalam suatu bidang, latihan dan latihan yang berkesinambungan menjadi faktor penentu keberhasilan. Demikian pula halnya dengan aktivitas tulis-menulis. Kegiatan ini baru akan mencapai puncak-puncak keberhasilannya kalau Anda sungguh-sungguh memperjuangkannya. Jangan sampai baru mencoba beberapa kali, lalu Anda memvonis diri tidak berbakat. Jadi, yang terpenting dalam mengasah kemampuan apapun, termasuk dalam tulis-menulis, adalah kesediaan untuk berlatih dan berlatih terus-menerus tanpa mengenal menyerah. Bukankah ada ungkapan yang menyatakan bahwa ‘ala bisa karena biasa’? Saya percaya ungkapan itu benar, Anda juga percaya, bukan?
Begitu Anda mulai menguasai kemampuan tulis-menulis, maka bersamaan dengan itu rasa senang pun akan muncul. Rasa senang ini pada gilirannya akan memacu Anda untuk lebih banyak berkarya dengan kualitas yang lebih baik. Jadi, kesenangan yang Anda peroleh akan berlipat-lipat, apalagi kalau artikel/tulisan yang Anda buat dan Anda coba kirim ke media cetak itu, dimuat. Wah … senangnya bukan main.
Kesenangan itu bertambah lagi kalau ada balas jasa berupa honorarium yang Anda terima atas pemuatan artikel Anda di media massa itu.
Nah, selamat menulis, selamat menjalani proses, dan selamat menikmati kesenangan. Percayalah bahwa menulis itu benar-benar menyenangkan. Kalau Anda belum percaya juga, lakukanlah pekerjaan tulis-menulis dengan tekun, sungguh-sungguh, dan berkesinambungan, lalu lihatlah hasilnya. Anda pasti akan bilang: Benar, menulis itu memang menyenangkan!
Anda punya pendapat lain, para pembaca yang budiman?
Read more ...

Membacalah untuk Menjadi Lebih Bijaksana

Oleh I Ketut Suweca

Membaca adalah aktivitas mentransfer isi bacaan (pengetahuan) ke dalam pikiran. Membaca memberikan pengetahuan bagi pembacanya. Pengetahuan yang didapat bermacam-macam sesuai dengan bacaan yang dibaca. Ada berbagai bahan bacaan, diantaranya buku, majalah, koran, brosur, dan internet. Yang disebut terakhir adalah bahan bacaan elektronik yang mengandung banyak sekali pengetahuan dari berbagai penjuru dunia. Untuk membuat pengetahuan/wawasan bertambah luas dan mendalam, kita bisa ‘kuliah’ dari bahan-bahan bacaan di internet.
Kalau dtelusuri lebih dalam, aktivitas membaca dapat memberikan pengetahuan yang berharga bagi pembacanya. Dari pengetahuan tersebutlah, manusia memandang dunia. Pengetahuan itu pada akhirnya akan mempengaruhi sikap seseorang dan sikap itu menentukan bagaimana seseorang merespon lingkungannya. Jadi, pengetahuan dapat merubah/membentuk sikap seseorang dalam menanggapi lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya, pengetahuan itu sangat menentukan identitas seseorang. Pengetahuan itu pula menentukan siapa dia sesungguhnya: apakah ia seorang pembelajar atau bukan.
Apakah manfaat membaca? Pertama, seperti dikatakan di atas, membaca akan dapat menambah wawasan seseorang. Semakin luas bacaan seseorang, maka semakin luas pula pengetahuannya. Kedua, dengan membaca, seseorang dapat memanfaatkan waktu luang dengan baik. Orang yang membaca berarti pintar memanfaatkan waktu secara positif. Dengan asyik membaca, maka orang terhindar dari pemanfaatan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna atau bermalas-malasan.
Ketiga, dengan membaca, orang dapat menelusuri pemikiran para ahli, para bijaksana melalui tulisan mereka. Berbahagialah orang yang suka membaca, karena dengan hobinya itu, yang bersangkutan dapat mengenal lebih dekat pemikiran dari para bijaksana, dan ini menuntunnya menjadi lebih bijaksana di dalam melakoni kehidupan. Keempat, dengan membaca, seseorang telah membuat jalan bagi dirinya sendiri untuk sukses. Kesuksesan itu memerlukan orang yang menguasai bidangnya, bijaksana dalam bersikap dan bertindak, berpengetahuan yang memadai dalam bidang yang ditekuni. Dan, semua itu dapat diperolehnya dari aktivitas membaca secara berkesinambungan.

Melihat demikian banyak manfaat membaca, maka mari kita lebih rajin lagi membaca. Sisihkan waktu untuk membaca setiap hari selama minimal satu jam. Bagi para pelajar, tentu dibutuhkan waktu membaca yang lebih banyak lagi. Sisihkan uang untuk membeli bacaan. Banyak toko buku yang menyediakan berbagai bahan bacaan. Tinggal tentukan bacaan apa yang disukai dan pilih. Terserah, mau dipilih bacaan yang sesuai dengan minat/hobi atau buku yang sesuai dengan kebutuhan studi.
Oke, selamat membaca. Semoga dengan cara ini wawasan kita akan bertambah, sikap kita akan kian bijaksana dalam merespon berbagai kejadian/peristiwa yang melintas di dalam kehidupan kita. Seperti dikatakan Ursula K. Le Guin, bahwa “kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri, apa yang dilakukan, dirasakan, dan dipikirkan orang lain -- entah itu nyata atau imajiner -- merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kita mengenai siapa diri kita”.
Bagaimana pendapat Anda, para pembaca?
(economist-suweca.blogspot.com)
Read more ...

Hidup Penuh dengan Rasa Syukur

Oleh I Ketut Suweca

Sebagian dari kita mungkin suka mengeluh setiap hari, disadari atau tidak. Mulai dari bangun pagi hingga menjelang tidur ada saja yang pantas dikeluhkan. Ya, tidak punya inilah, tidak memiliki itulah. Cuaca tidak baiklah, tidak punya cukup uanglah. Tak punya makanan enaklah. Anak-anak tak mau membantu orang tuanyalah. Kekasih atau teman tak setialah dan masih banyak lagi. Keluhan-keluhan itu seolah-olah tiada putusnya. Ada saja sesuatu persoalan yang pantas dikeluhkan.
Mengeluh adalah bagian dari hidup, dan ini sangat manusiawi. Akan tetapi, mengeluh saja, apalagi mengeluh setiap hari, sama sekali tidak berguna. Keluhan itu lebih banyak membebani pikiran sehingga bisa menyebabkan stress dan kita pun tidak bisa menikmati hidup karenanya. Mengeluh itu seperti menyiram api dengan bensin yang membuatnya kian menyala. Semakin ‘menyala’ suatu keluhan, semakin berat beban pikiran yang harus ditanggung. Hidup itu sendiri memang sebagian terdiri dari masalah dan masalah. Tapi, kalau masalah tersebut dikeluhkan terus-menerus, maka dia akan kian membesar. Kalau tak yakin tentang ini, mulailah bangun pagi Anda dengan sederet keluhan, maka dapat dipastikan Anda akan sakit karenanya. Dan, jangan lupa, keluhan itu juga akan menarik hal-hal yang negatif ke dalam hidup.
Pernahkah kita begitu siuman di pagi hari, lalu dengan segera berterima kasih kepada Tuhan yang masih memberikan kesempatan menyongsong hari baru? Sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan, karena kita telah diberikan kaki dan tangan, jantung, mata serta organ tubuh lainnya yang dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat menunjang segala aktivitas kita? Pernahkah kita bersyukur atas semua harta, rumah, kendaraan, dan sebagainya yang kita miliki? Alih-alih bersyukur, kita mungkin malah lebih sering mengeluh karena belum memiliki lebih banyak dan lebih banyak lagi.
Bersyukur adalah pola hidup yang selaras dengan ajaran agama. Semua agama mendorong umatnya untuk bersyukur atas apapun yang dimiliki. Kalau dilihat dari manfaat, bersyukur sendiri dapat membantu kita untuk menikmati ketenangan dan kedamaian hidup setiap hari. Juga, membuat jiwa kita lebih halus dan lebih mampu memaklumi segala persoalan yang menimpa kita. Dengan banyak bersyukur, kita menjadi lebih kuat menghadapi kehidupan, dan lebih bisa memaklumi bahwa kehidupan ini demikian berwarna. Artinya, kita bisa memaklumi segala perbedaan yang ada sekaligus tak hendak memaksakan keinginan terhadap orang lain. Kita menjadi lebih sabar dan mampu menjaga diri untuk tidak cepat larut dalam hal-hal negatif yang mungkin dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Dengan banyak bersyukur, kita akan merasa lebih dekat dengan Tuhan dan merasa bahwa Tuhan selalu dekat dengan kita serta selalu membantu kita setiap kali ada masalah yang harus kita hadapi. Seperti dikatakan Dr. Robert Murphy, bahwa “orang yang memiliki hati yang bersyukur selalu selaras dengan Yang Tak Terhingga, dan tidak bisa menahan sukacita yang timbul dari merenungkan Tuhan dan kehadiran-Nya”.
Oleh karena itu, marilah kita mulai menyukuri apapun yang kita miliki dan apapun yang menimpa kita dalam menjalani kehidupan. Yakinilah bahwa masalah pasti selalu ada dalam kehidupan. Setiap masalah pasti ada hikmah di baliknya. Dalam setiap persolan, niscaya ada jalan pemecahan. Dan, tak ada masalah yang kekal, pasti akan berlalu, cepat atau lambat. Pintarlah kita menyukuri apa-apa yang sudah menjadi karunia Tuhan untuk kita.
Banyak hal yang pantas kita syukuri. Misalnya, kita bersyukur karena masih diperkenankan menghirup udara segar ketika fajar menyingsing, masih memiliki tubuh yang relatif sehat, mempunyai anak-anak yang sehat dan rajin belajar. Juga tetap bersyukur, walaupun mungkin kita hari ini dalam kedaan terbaring sakit, atau di kantong kita hanya ada uang sepuluh ribu rupiah. Percayalah, dengan selalu bersyukur, kepada kita Tuhan akan merentangkan jalan menuju kebaikan dan kebahagiaan. Acapkali problem yang kita hadapi membuat kita kacau, tetapi kalau kita tegar dan penuh syukur dalam menghadapinya, yakinlah setelah itu akan datang hikmah yang berguna asal kita senantiasa berupaya memberikan yang terbaik yang kita bisa. Mari, jadikan setiap hari sebagai hari baru, dimana rasa syukur selalu kita dendangkan.
Bagaimana pendapat Anda, para pembaca?
(economist-suweca.blogspot.com)
Read more ...